MEMAHAMI IJMA' DAN QIYAS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
A. Artikel Literasi
Ijma' dan Qiyas: Cara Islam Menjawab Persoalan Zaman
Islam adalah agama yang ajarannya bersumber dari wahyu Allah Swt. Al-Qur'an menjadi sumber utama ajaran Islam, sedangkan hadis menjadi penjelas dan penerang terhadap kandungan Al-Qur'an. Namun, kehidupan manusia terus berkembang. Muncul berbagai persoalan baru yang tidak ditemukan secara langsung dan terperinci di dalam Al-Qur'an maupun hadis.
Di sinilah ijma' dan qiyas memiliki peranan penting. Keduanya merupakan metode yang digunakan para ulama untuk menetapkan hukum terhadap persoalan yang belum memiliki ketentuan secara langsung dalam Al-Qur'an dan hadis.
1. Apa Itu Ijma'?
Secara bahasa, ijma' berarti kesepakatan atau kebulatan tekad. Dalam istilah ilmu fikih, ijma' adalah kesepakatan para ulama mujtahid pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah saw. mengenai hukum suatu persoalan keagamaan.
Ijma' bukan sekadar pendapat mayoritas masyarakat. Ijma' berkaitan dengan kesepakatan para ulama yang memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad terhadap persoalan agama.
Sebagai contoh, setelah Rasulullah saw. wafat, umat Islam menghadapi berbagai persoalan baru yang membutuhkan kepastian hukum. Para sahabat kemudian melakukan pembahasan dan musyawarah untuk menentukan sikap berdasarkan Al-Qur'an dan hadis serta pertimbangan keagamaan yang kuat.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi manusia untuk menggunakan akal dan kemampuan intelektualnya dalam menyelesaikan persoalan, selama tetap berpedoman pada prinsip-prinsip syariat.
2. Apa Itu Qiyas?
Selain ijma', terdapat metode lain yang disebut qiyas.
Secara sederhana, qiyas adalah menetapkan hukum terhadap suatu persoalan baru dengan cara menganalogikannya kepada persoalan yang sudah memiliki ketentuan hukum dalam Al-Qur'an atau hadis karena terdapat kesamaan alasan atau 'illat hukum.
Dengan kata lain, qiyas membantu para ulama menjawab pertanyaan:
"Jika suatu perbuatan baru memiliki alasan hukum yang sama dengan perbuatan yang sudah jelas hukumnya, apakah hukumnya juga sama?"
Misalnya, Al-Qur'an secara tegas mengharamkan khamr karena mengandung unsur yang dapat memabukkan dan menghilangkan kesadaran. Kemudian muncul berbagai jenis zat atau minuman baru yang tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an dan hadis. Para ulama dapat mengkaji apakah benda tersebut memiliki 'illat yang sama, yaitu memabukkan atau merusak akal. Jika memiliki alasan hukum yang sama, maka dapat ditetapkan hukum berdasarkan qiyas.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa qiyas bukan berarti membuat hukum agama berdasarkan pendapat pribadi. Qiyas harus dilakukan dengan metode keilmuan dan memenuhi persyaratan tertentu.
3. Mengapa Ijma' dan Qiyas Penting?
Kehidupan manusia tidak pernah berhenti berkembang. Dahulu manusia belum mengenal internet, transaksi digital, kecerdasan buatan, uang elektronik, dan berbagai bentuk teknologi modern. Saat ini semua itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Persoalannya, tidak semua bentuk kehidupan modern disebutkan secara spesifik dalam Al-Qur'an dan hadis. Oleh karena itu, para ulama membutuhkan metode untuk memahami persoalan baru berdasarkan prinsip-prinsip syariat.
Ijma' dan qiyas menunjukkan bahwa Islam memiliki keluwesan dalam menghadapi perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki batas dan prinsip yang harus dijaga.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menolak perkembangan zaman. Sebaliknya, umat Islam diperintahkan untuk menggunakan ilmu, akal, dan pertimbangan moral agar perkembangan tersebut membawa kemaslahatan.
4. Ijma', Qiyas, dan Kehidupan Pelajar
Sebagai pelajar, memahami ijma' dan qiyas bukan hanya untuk mendapatkan nilai dalam pelajaran. Lebih jauh, materi ini mengajarkan kita tentang pentingnya berpikir kritis, menghargai pendapat ahli, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
Di era digital, kita sering menemukan informasi tentang halal-haram suatu perkara melalui media sosial. Tidak jarang seseorang langsung menyebarkan informasi hanya karena membaca sebuah unggahan tanpa mengetahui sumber dan dasar hukumnya.
Padahal, persoalan agama membutuhkan kehati-hatian.
Seorang muslim hendaknya membiasakan diri bertanya:
Dari mana sumber informasi ini? Apa dalilnya? Siapa yang menjelaskannya? Apakah orang tersebut memiliki kompetensi dalam bidang agama?
Sikap seperti ini merupakan bagian dari budaya berpikir ilmiah yang sangat penting bagi generasi muda.
5. Pelajaran Penting dari Ijma' dan Qiyas
Ijma' mengajarkan kita pentingnya musyawarah dan kesepakatan para ahli. Sementara qiyas mengajarkan pentingnya kemampuan berpikir logis dengan tetap berpegang pada dasar syariat.
Keduanya memberikan pelajaran bahwa dalam menghadapi persoalan baru, seorang muslim tidak boleh hanya mengandalkan perasaan atau pendapat pribadi.
Ilmu harus berjalan bersama akal, dan akal harus berjalan dalam bimbingan wahyu.
Dengan memahami ijma' dan qiyas, kita dapat melihat bahwa ajaran Islam tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Islam juga memberikan prinsip dan metode agar umatnya mampu menghadapi berbagai persoalan baru secara bijaksana, bertanggung jawab, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai syariat.
B. Soal Uraian
Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas, logis, dan menggunakan bahasa sendiri!
1. Jelaskan pengertian ijma' menurut istilah dan siapa saja yang berperan dalam proses ijma'!
2. Apa perbedaan mendasar antara ijma' dan qiyas? Jelaskan dengan contoh sederhana!
3. Mengapa dalam perkembangan kehidupan manusia diperlukan metode seperti ijma' dan qiyas? Jelaskan pendapatmu!
4. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak muncul persoalan baru yang tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an dan hadis. Bagaimana qiyas dapat membantu para ulama dalam menentukan hukum terhadap persoalan tersebut?
5. Menurut pendapatmu, mengapa qiyas tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan pendapat atau logika pribadi? Jelaskan alasannya!
6. Seorang siswa menemukan unggahan di media sosial yang menyatakan bahwa suatu transaksi digital hukumnya haram. Namun, unggahan tersebut tidak mencantumkan dalil maupun sumber ulama yang jelas. Apa sikap yang seharusnya dilakukan siswa tersebut berdasarkan pelajaran tentang ijma' dan qiyas?
7. Apa nilai atau karakter positif yang dapat kamu teladani dari konsep ijma' dan qiyas untuk kehidupan sebagai pelajar SMK, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dunia kerja? Jelaskan dengan contoh konkret.
MJM 017






