Kendal - Jawa Tengah

Sabtu, 10 Januari 2026

THE POWER OF AAMIIN

8:48:00 AM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments

KEKUATAN “AAMIIN” 

Oleh: M. Juharuddin

(Sorotan/002/03/VII/2025) - Edisi Juli 2025

Kata "Aamiin" (آمِين) berasal dari bahasa Arab, yang artinya “Ya Allah, kabulkanlah doa kami” atau versi lain “Semoga doa ini diterima”. Walaupun kata “Aamiin” ini bukan bagian dari ayat Al-Qur'an, tetapi biasa diucapkan sambil mengiringi bacaan doa atau diucapkan setelah membaca surat Al-Fatihah, berdasarkan arti kata “Aamiin” sebagai bentuk pengharapan yang sungguh-sungguh atas doa kita kepada Allah SWT, agar permohonan kita dikabulkan.

Secara etimologi, "Aamiin" berasal dari kata kerja Arab "āmana – yuʾaminu" (آمَنَ – يُؤْمِنُ) yang berarti percaya atau beriman. Namun dalam bentuk “Aamiin”, ia merupakan bentuk permohonan: “kabulkanlah”. penulisan Arab yang benar adalah (آمِين) "Aamiin" bukan (أَمِين) "Amin" yang berarti "jujur ​​atau terpercaya". Keduanya memiliki makna yang berbeda meskipun terdengar mirip.

Pada aktifitas Ibadah, dalam hal ini adalah shalat, “Aamiin” diucapkan setelah membaca Al-Fatihah. Ada momen penting dalam ucapan "Aamiin" saat pengucapannya bersama-sama, serentak dan ramai menggema. Berikut kami uraikan detail istimewa pada saat kata "Aamiin" diucapkan secara berjamaah dalam shalat. 

1. Saat "Aamiin" diucapkan serentak, ada gema yang menggaung, disitu ada hentakan energi yang keluar dari ucapan "Aamiin" secara berjamaah, ini adalah momen istimewa, yang mana ketika kita merasakan getaran energi "Aamiin" itu mewarnai seluruh jamaah shalat dengan vibrasi yang sangat positif. Coba Anda bisa mempraktikkan ucapan "Aamiin" berjamaah dengan suara nyaring, sambil merasakan getaran yang ada, akan sangat terasa getaran energi yang kuat, yang bukan hanya dari sisi luarnya saja tapi sampai merasuk ke dada. Terdengar kuat dan padat ditelinga, empuk di jiwa dan teduh dihati. Rasakan betul bahwa sendi-sendi iman tergetar dengan ucapan “Aamiin”, ada luapan yang kuat yang menambah nilai ketaqwaan dan ketenangan. 

2. Hayati betul ucapan serentak "Aamiin" pada saat shalat berjamaah, rasakan gema energinya merambat ke seluruh pori-pori kulit dan merasuk ke dalam, lalu menyusup dan mencairkan kesuluruh tubuh. Membawa energi perubahan yang sangat positif.

3. Yakinilah bersama gema suara "Aamiin" penghambaan kita dengan ibadah shalat diterima oleh Allah SWT, doa-doa kita juga terangkat untuk kemudian diijabah oleh-Nya. 

4. Terimalah bahwa dengan suara "Aamiin" yang gema energinya menyusup ke dalam tubuh membawa dampak perubahan yang sangat positif terhadap kehidupan kita, meningkatkan kesadaran spiritualitas kita, dan memantapkan energi batin sehingga kita lebih kuat menapaki jalan agama sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Mengucapkan "Aamiin" memiliki makna spiritualitas, sebagai sebuah bentuk pengharapan, bahwa “Aamiin” adalah afirmasi vertikal antara manusia sebagai hamba dan Allah SWT sebagai Tuhan, kata “Aamiin” juga merupakan selftalk; Pendorong kepercayaan diri, optimisme, i'tiqad atau keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Ucapkan kata “Aamiin”untuk selalu mengiringi doa-doa, ucapkan dengan hati yang ikhlas, tunduk, dan penuh harap.

Namun kenyataannya kata “Aamiin” tidak hanya diucapkan oleh orang Islam, baik dalam konteks mendorong sebagai pengiring doa. Atau sebagai kata penguat, mengikat keterhubungan antara manusia dengan Tuhan. 

Berikut disertakan juga penjelasan tentang sejarah kata "Aamiin" dalam konteks zaman dan lintas agama.

Kata “Aamiin” dalam konteks sejarah berasal dari bahasa Ibrani kuno: "āmēn" (אָמֵן) yang berarti “benar”, “setia”, atau “semoga demikian”. Dari bahasa Ibrani ini kemudian kata tersebut masuk ke dalam bahasa Arab menjadi "آمين (Āmīn)" yang memiliki arti serupa “Ya Allah, kabulkanlah”.

Tiga Agama Samawi masih menggunakan kata “Aamiin” sampai saat ini, sebagai bahasa penghubung untuk ketersambungan doa-doa dan pujian kepada Tuhan. Diantara agama yang masih menggunakan kata “Aamiin” yautu; 1). Yahudi: Digunakan sebagai penegas doa atau pujian. 2). Kristen: Diucapkan di akhir doa atau pujian sebagai penutup yang berarti “setuju” atau “semoga terjadi”. 3) Islam: Digunakan untuk mengakhiri doa, terutama setelah membaca Al-Fatihah dalam shalat, dengan harapan agar doa dikabulkan.

Kata “Aamiin” sudah digunakan sejak jaman kenabian, dalam Islam Rasulullah SAW dan para sahabatnya menggunakan kata “Aamiin” setelah membaca Al-Fatihah. serupa juga tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa siapa yang mengucapkan “Aamiin” bersamaan dengan malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu. Artinya, “Aamiin” adalah kata restu yang pengucapannya bukan sekedar diri pribadi, namun ada energi yang membersamai bahkan malaikatpun menyertai ucapan “Aamiin”, terutama dari hamba yang bersungguh-sungguh dalam penghayatan dan pengucapannya.

Seiring perkembangan zaman, penggunaan “Aamiin” menjadi bagian dari tradisi spiritual umat beragama. Dalam Islam, “Aamiin” menjadi lambang kepasrahan dan harapan kepada Allah. Dalam doa berjamaah, diucapkan secara serempak untuk menambah daya, kekuatan, kekhusyukan dan semangat kebersamaan yang gaungan energinya tidak hanya menyampaikan doa-doa tapi juga menyusup ke badan membentuk sebuah perubahan.

Kata “Aamiin” memiliki akar sejarah lintas agama dan zaman. Dari Ibrani ke Arab, dari Yahudi dan Kristen ke Islam, kata ini tetap mengandung makna yang kuat sebagai simbol pengakuan iman dan permohonan agar doa dikabulkan. Ia bukan sekadar ucapan, tapi juga lambang harapan dan keimanan.

#artikel #ayomenulis #karyatulis #Spotlight

Kamis, 04 Desember 2025

MEDITASI DALAM SHALAT

10:46:00 AM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments


MEDITASI DALAM SHOLAT

Oleh: M. Juharuddin 

Spotlite/003/18/VII/2025 | Edisi Juli Ke-II 2025

Meditasi adalah suatu teknik khusus untuk meningkatkan kesadaran, dengan fokus untuk melatih pikiran agar menjadi jelas dengan realitas keberadaan diri, tenang, dan terkendali. Meditasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti fokus pada pernapasan, menenangkan pikiran melalui visualisasi atau doa/mantra. 

Meditasi dilakukan secara terukur, dengan durasi waktu tertentu, dilakukan secara teratur sehingga akan meningkatkan kedewasaan dalam hal perasaan, pikiran, membentuk karakter dan emosi. 

Meditasi juga bisa dikatakan sebagai praktik mental yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, konsentrasi, dan ketenangan pikiran. Meditasi melatih pikiran agar lebih fokus, tenang, dan sadar akan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Meditasi membantu mengurangi stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kualitas tidur, konsentrasi, dan kesadaran diri.

Pada praktiknya meditasi dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya yaitu: 1) Meditasi Kesadaran, yakni berfokus pada kesadaran napas, tubuh, dan pikiran. 2) Meditasi Transendental, yakni menggunakan doa/mantra untuk mencapai keadaan transendental (transedental: pengalaman tentang melampaui batas-batas pemahaman biasa, baik tentang kebenaran, penyatuan, kebaikan, maupun keindahan). 3) Meditasi Visualisasi, yakni tentang menggunakan imajinasi untuk menciptakan gambaran mental yang positif. 4) Meditasi Gerakan, yakni tentang menggabungkan gerakan tubuh dengan kesadaran akan napas dan pikiran. 5) Meditasi Loving-Kindness, yakni berfokus pada pengembangan kasih sayang dan empati terhadap diri sendiri dan orang lain.

Nah, sekarang tentang sholat; Sebagaimana kita tahu bahwa sholat adalah ibadah pokok dalam Islam, sholat terdiri dari rangkaian gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Sholat adalah tiangnya Agama Islam sekaligus ibadah wajib yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Mi’raj.

Banyak ayat Al Qur’an dan Al Hadits yang menegaskan tentang perintah sholat, pentingnya menegakkan sholat.  salah satunya yaitu: “Dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Berdasarkan ayat tersebut jelas bahwa kemanfaatan sholat bukan hanya perkara akhirat tetapi ada sebuah daya yang mampu menggeser konsep hidup kita menjadi lebih tertata dan terarah.

Sholat adalah peta yang sangat jelas untuk mendekatkan diri kepada Allah, perisai hati, menumbuhkan rasa tenang dan ikhlas. Namun pada kenyataannya banyak diantara kita mengerjakan sholat bukan berdasar keikhlasan tapi justru sholat seperti sebuah tuntutan bahkan  pelaksanaannya sekedar menggugurkan kewajiban belaka.

Begitu penting peran sholat dalam membantu tertatanya hidup kita, secara psikis kita terjaga dari ketertekanan sehingga mampu mengelola stres, bahkan jika sholat kita lakukan dengan sungguh-sungguh mampu mendatangkan ketenangan hati. Kenapa demikian? Karena di dalam sholat ada kesadaran diri, kesadaran tentang keberadaan kita, darimana kita berasal? untuk apa kita hidup? dan kemana kelak kita kembali?, tiga pertanyaan itu menggugah keberadaan terdalam kita sebagai seorang hamba. Bahwa bukan Allah yang butuh kita, tapi kita yang sangat-sangat butuh Allah, kita yang butuh sholat. Oleh karenanya jangan sampai kita “nggampang” dengan sholat.

Bukan hanya manfaat secara psikis sholat juga berimbas positif pada kesehatan tubuh manusia/fisik. Jika dilakukan dengan benar gerakan sholat bisa melancarkan peredaran darah dan menjaga tubuh tetap aktif, juga menjaga stabilitas kesehatan badan. 

Jika sholat dilakukan dengan berjamaah, tentu dapat menumbuhkan enteraksi sosial dalam bingkai kebersamaan, kerukunan, dan empati. Bahkan sholat bisa dikatakan sebagai ruhnya kedisiplinan, jika sholatnya tertib/disiplin maka, akan disipin pula pola hidupnya yang lain.

Lantas bagaimana cara agar sholat kita benar-benar berimbas pada peningkatan kesadaran spiritual, termasuk pada saat melaksanakan sholat kita mampu sampai pada taraf pengendapan jiwa, meditatif, dan hanyut dalam kenikmatan sholat. Berikut adalah kondisi yang harus Anda bangun agar sampai pada titik meditatif di dalam sholat. 

1. Sadarilah bahwa sholat adalah bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah, sholat bukanlah sekedar menggugurkan kewajiban. Sebagian orang kadang sering berkata “kalau sudah sholat lego/tenang”, itu benar, namun seharusnya ketenangan yang sebenarnya adalah pada saat kita sholat itu, lego yang sebenarnya adalah suasana tanpa hijab antara kita dan Allah dalam sholat itu sendiri. 

2. Selain menyadari bahwa sholat adalah bentuk ibadah kepada Allah, memenuhi perintah Allah. Sadari juga bahwa sholat merupakan bentuk ketundukan kita sebagai hamba kepada Tuhannya (Allah SWT). Dari kesadaran itulah kemudian sholat akan menjadi aktifitas yang sangat sakral buat kita. 

3. Sholat itu juga sebagai alarm, pengingat agar manusia tidak lalai. Oleh karenanya sadarilah posisi dirimu saat melaksanakan sholat, fokus dan sadari keadaanmu, hatimu, pikiranmu, semua tertuju pada kondisi sholatmu saat ini. Bahwa keadaan sholatmu adalah kondisi terbaikmu, sholatmu adalah moment mulia karena di titik itulah engkau sedang menyatu dengan garis vertikal ketuhanan (energi Allah SWT).

4. Membangun kesadaran diri saat melaksanakan Sholat; mulailah saat membaca niat (krentek niat), sadarilah bahwa niat sholat adalah kunci pembuka atau ketersambungan hubunganmu dengan Allah di dalam sholat yang sedang Anda laksanakan. Kita (manusia) yang dipenuhi kekhilafan, bersimbah dosa akan mengingat dan tersambung dengan energi Maha Suci yakni Allah SWT, melalui perantara sholat yang sedang kita laksanakan. 

5. Setelah niat, lalu takbiratul ihram Anda di sunnahkan membaca doa iftitah, dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan seterusnya. Semua bacaan sholat adalah bahasa tauhid, sebagai sarana komunikasi langsung dengan Allah. Maka, hendaklah baca dengan kesungguhan, bacalah seolah-olah Anda melihat Allah, atau yakini Allah melihat Anda. 

6. Sholatlah dalam keadaan sebenar-benar sadar, fokus pada keberadaanmu didalam sholat, nikmati setiap ucapan doa dalam sholat, fokus pada diri yang sangat tenang, saat paling dekat antara hamba dengan Tuhannya.

7. Letakkan semua  hiruk pikuk urusan dunia, bersandar totalitas pada Allah atas semua problematika. Jadikan sholat bukan sekedar kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa. Dengan sholat Allah memperbaiki hati, pikiran, dan alur masalahmu. Kosongkan betul dirimu dari dayamu, rasakan dan resapi semua daya adalah dzat Allah SWT, dari arah dan sisi manapun.

8. Sholatlah dengan suasana paling tenang dan nyaman. Dimanapun Anda sholat, dan dalam kondisi apapun dirimu, jadikan tempat dan suasana di dalam dirimu benar-benar hanyut dalam dimensi sholat, sangat tenang dan nyaman.

9. Upayakan untuk sholat tepat waktu, berlatih secara bertahap meski tidak terlalu keras pada diri sendiri, santai tapi jaga konsistensinya. Sholat tepat waktu juga menjaga agar Anda tidak tergesa-gesa, lakukan setiap gerakan sholat dengan tempo sederhana namun pelan. Banyak manfaat yang akan Anda dapatkan dengan sholat tepat waktu, diantaranya penyakit was-was akan hilang, dan waktu hidup Anda akan terasa lebih panjang dan produktif.

10. Untuk sholat sunnah; Anda bisa melatihnya dengan sholat sunnah yang paling sesuai dengan waktu Anda, karena ini terkait dengan kesibukan Anda. Pilih sholat sunnah yang waktunya paling nyaman buat Anda, karena yang dikerjakan adalah sebenar-benar sholat dengan segenap keseriusan untuk mencapai tingkat meditatif yang dalam, jadi benar-benar tidak ada ketergesa-gesaan karena dikejar kesibukan lain. Mulai latihlah untuk disiplin istiqomah. Anda tidak perlu menjamah terlalu banyak sholat sunnah, latihlah satu tapi kontinyu, lambat laun Anda akan candu dan merambah otomatis pada sholat sunnah yang lain.

11. Setiap gerakan sholat lakukan dengan benar dan nyaman, hilangkan ketergesa-gesaan, berdiri meditatif dengan stabil nyaman dan seimbang, rukuk dengan stabil nyaman dan seimbang, duduk pun dengan stabil nyaman dan seimbang. Lakukan semua gerakan dan jeda sholat dengan tuma’ninah (sungguh-sungguh, tenang, damai, dan tenteram).

12. Niatkan untuk tetap fokus pada doa-doa sholat yang sedang dibaca, namun jangan memaksakan pikiran Anda, cukup sadar saja bahwa posisi Anda sangat aman dan nyaman pada saat melaksankan shalat. Jika sesekali pikiran lari kemana-mana tidak apa, Anda hanya perlu kembali pada kesadaran mengingat kenyamanan dan keamanan sholat.

Jika Anda dapat menciptakan kondisi meditatif saat sholat, manfaatnya sangat banyak sekali pada perubahan hidup. Anda tidak akan lagi merasa cemas, baik pada hidup Anda saat ini ataupun dimasa yang akan datang, ini karena terjadi stabilitas sistem hormon di dalam diri Anda. Sehingga Anda tidak akan lagi merasa stres dan perasaan hidup Anda lebih tenang.

Itulah point-point yang kami uraikan agar mendapatkan kondisi maksimal dalam melaksanakan sholat, karena sholat itu bukan soal kewajiban atau ketika kita mengerjakan mendapatkan pahala saja. Melainkan kita harus bisa menciptakan kondisi spiritualitas yang mendalam saat melaksanakan sholat, dan terntunya berimbas pada perubahan hidup kita, baik lahir maupun batin. 

Dari apa yang kami uraikan diatas, ambil saja point termudah dan paling mungkin untuk Anda terapkan. Lakukan dengan sederhana sebatas kemampuan Anda, namun tetap konsiten, lakukan terus menerus karena perubahan akan terjadi seiring berjalannya waktu tanpa Anda sadari.

#artikel #artikelilmiah #meditasi #ayosholat #ayomenulis #konsisten #mjuharuddincht #Spotlite #menatahidup

Sabtu, 01 November 2025

DZIKIR KESADARAN

4:54:00 PM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments


DZIKIR KESADARAN

Oleh: M. Juharuddin

(Spotlight/01/24/VI/1025 - Edisi Juni 2025) Pencipta manusia dan alam semesta adalah murni atas kehendak Allah. Di semua agama monoteis baik itu Islam, Kristen, dan Yahudi juga meyakini bahwa terwujudnya manusia dan alam semesta adalah kehendak Tuhan. Namun alasan penciptaan manusia dan alam semesta setiap agama bisa berbeda-beda tergantung ajaran kitab suci yang dianutnya.

Menurut ajaran Islam, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk sebuah pengabdian, manusia harus mengabdi dalam bentuk peribadatan kepada Allah dan berbuat baik selama hidupnya. serupa firman Allah dalam Al Qur'an "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS Adz-Dzariyat : 56).

Sarana ibadah itulah yang kemudian menuntun manusia untuk mengingat dan menyebut nama Allah sebagai Dzat Pencipta. Ibadah merupakan frase-frasa suci untuk mendekatkan diri kepada-Nya. 

Ibadah juga sebagai upaya peningkatan kesadaran spiritual, kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalani hidup, manusia tentu diliputi hal ihwal permasalahan yang berkesinambungan dan silih berganti, disini ibadah juga berperan sebagai pengontrol stres dan kecemasan. Mengingat Tuhan dapat menenangkan pikiran dan jiwa, dan memberi efek damai dalam menjalani hidup.

Ibadah atau dzikir bagian dari cara menusia mendekatkan diri kepada Tuhan. Bahkan dianggap sebagai cara berkomunikasi dengan Tuhan, sebagai ungkapan rasa syukur, dan permohonan petunjuk atau pengampunan.

Ibadah, dzikir, meneguhkan kesadaran untuk mengingat Allah juga merupakan upaya menjaga dan membersihkan hati, dari kerak-kerak hati seperti iri, dengki, hasut, riya', ujub, dan kotoran hati lainnya. Sehingga hati kita senantiasa berpandangan baik dengan semua ketetapan yang sudah digariskan oleh Allah SWT, batin menjadi tenang dan niat-niat kita menjadi ikhlas karena Allah.

Untuk memeroleh kenikmatan dzikir, agar dzikir tidak menjadi formalitas atau sekedar laku untuk mengugurkan perintah ibadah. Maka konsekuensi dzikir perlu digali, bagaimana dzikir menjadi aktivitas yang jernih, dzikir menjadi lafadz-lafadz yang penuh penghayatan, dan dzikir manjadi makna yang dalam. 

Ada beberapa jenis dzikir yang akan kita ulas, disertai praktik penerapannya. 

Pertama; Dzikir Lisan (Jali): Dzikir Jali merupakan aktifitas dzikir dengan cara melafalkannya dengan jelas. Anda bisa melafalkan kalimat-kalimat thoyyibah seperti tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), tahlil (Laa ilaaha ilah), dan istighfar (Astaghfirullah). 

Persoalannya apakah dzikir yang sebanar-benar dzikir hanya lafadz yang keluar dari bibir saja dengan capaian jumlah hitungan tertentu?, ternyata bukan. Dzikir harus menjadi aktifitas spiritual mendalam yang secara lahir batin terasa imbasnya, dzikir lisan (jali) seharusnya diucapkan dengan bukan sekedar paham artinya, tapi sebuah ucapan yang mampu merasakan getaran lahirnya dan menyadari keberadaan energinya. Berikut kami sertakan bagaimana melakukan dzikir lisan (jali) dengan kesadaran spiritual (kesadaran sepiritual): 

1. Pastikan kesadaran Anda baik, ditampilkan pada keadaan saat ini, pikiran tidak berada di masa lampau atau bayang-bayang masa depan. 

2. Badan dalam keadaan suci dari hadas kecil dan hadas besar. 

3. Luruskan niat semata-mata dzikir karena Allah SWT. 

4. Sebagai contoh mengucapkan kalimat tasbih "Subhanallah", dalam pengucapannya pastikan lafadznya terucap dengan jelas (lirih nyaring, walaupun pelan tapi telinga Anda mendengar). 

5. Rasakan getaran rongga mulut atau pita suara saat mengucap “Subhanallah”, dari situlah gelombang dzikir menebar keseluruh tubuh dan semua sistem yang ada di tubuh kita ikut berdzikir. 

6. Sadarilah bahwa dari ucapan dzikir terhembus energi yang memancar menjadi gelombang alam, menghalau hijab-hijab lalu kembali kepada diri kita dengan energi positif yang berlipat-lipat. 

7. Nikmati setiap ucapan dzikir dan hanyutlah dalam alunannya, satukan betul hati dan fikiran untuk semata-mata dzikir karena Allah SWT. 

Kedua; Dzikir Hati (Khafi): Merenungkan dan menghayati kebesaran Allah SWT dalam hati tanpa mengeluarkan suara. Bahwa Allah SWT menciptakan semua yang ada di alam semesta tidak ada yang sia-sia, semua adalah pertanda, semua adalah kemanfaatan, dan siklus yang saling terkait.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al Quran, Allah SWT berfirman: 

“Allah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Ankabut ayat 44)

Ayat ini menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak (kebenaran) dan manfaat, bukan dengan sia-sia. Ini menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta memiliki tujuan dan hikmah yang jelas. Tampaknya ayat ini hendak mengatakan bahwa; sesungguhnya sangatlah mudah menemukan bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.

Praktek Dzikir Hati (Khafi) sekilas terkesan mudah, karena hanya sebuah ucapan batin, perenungan dan penghayatan saja, tidak dengan melafalkan secara lisan ucapan khusus atau lafadz tertentu. Namun prakteknya tidak sesimple itu, dzikir hati memerlukan keteguhan khusus karena ini terkait dengan kesadaran vertikal yang harus dipelihara. Dzikir hati adalah ketersambungan antara ingatan kepada Tuhan dan rasa syukur sebagai bentuk kekaguman dan terima kasih atas ciptaan-Nya yang luar biasa. Dzikir hati erat hubungannya dengan ucapan dzikir yang mendalam seperti dzikir nafas Hu Allah, meditasi alam semesta, penghayatan akan kebesaran Tuhan melalui tadabur alam dan tafakkur. 

serupa dzikir lisan, berikut kami uraikan bagaimana melakukan dzikir hati: 

1. Luangkan waktu dan siapkan mental 

2. Cari momen dan juga tempat yang menurut Anda nyaman. 

3. Melakukan pemancaran emosional di tempat itu, afirmasikan “Bismillahirrahmanirrahim, Wahai diriku dan alam semesta terima kasih telah menerima keberadaanku, menjadi perantara kesadaranku kepada Tuhan”.

4. Kemudian dimulailah dzikir “Hu Allah”, saat menarik nafas mengucapkan “Huuuu” di dalam hati, dan saat mengeluarkan nafas mengucapkan “Allah” di dalam hati. 

5. Lakukan 11 kali tarikan dan hembusan nafas dengan berdzikir “Hu Allah” di dalam hati. Setelah itu diusahakan untuk tetap meng-utuhkan kesadaran vertikal Anda, mengingat Allah SWT dengan menonton segala ciptaan yang Anda saksikan. 

6. Hayati dan syukuri semua nikmat Allah yang Anda rasakan saat ini, seperti bernafas dengan segar dan lega, melihat dengan mengklik yang nikmat dan jelas, dan semua nikmat yang ada pada diri Anda. 

7. Niatkan dengan keyakinan yang teguh bahwa dzikir hati ini semata-mata karena Allah dan untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa Anda.

Itulah sekelumit tutorial dzikir hati yang bisa kami uraikan. Dzikir lisan dan dzikir hati hendaknya selalu dibor. Ditengah gelombang iman kita yang stabilibilitasnya selalu naik turun, jangan jadikan suasana hati sebagai penghalang. Tugas kita sebagai hamba adalah berusaha sebaik mungkin untuk konsisten dengan upaya dzikir leher dan sekemampuan kita. 

Dimanapun hendaknya selalu ada kalimat dzikir yang terucap, kapanpun hendaknya selalu ada ingatan untuk tetap berada pada gelombang sadar. Gelombang sadar tentang keberadaan kita, gelombang sadar tentang aktivitas kita, dan gelombang sadar tentang dzat ketuhanan yang selalu menggagalkan hidup kita. 

Semoga kita tetap dalam bayangan kesadaran dan keberlimpahan ilmu dan iman.

#artikel #artikelilmiah #ArtikelViral #artikelislami

Senin, 04 Agustus 2025

LOMBA BERBURU

3:54:00 PM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments

 LOMBA BERBURU


Suatu hari yang cerah, Raja Harun Al Rasyid dan para pengawalnya meninggalkan istana untuk berburu. Namun, di tengah perjalanan, salah satu pejabat kerajaan yang bernama Abu Jahil menyusul dengan terengah-engah di atas kudanya.


"Baginda...Baginda...hamba mau mengusulkan sesuatu !!" Katanya Abu Jahil mendekati sang Raja.


"Apa usulmu itu wahai Abu Jahil?" Taya baginda.


 "Agar acara berburu ini semakin seru dan disaksikan banyak penduduk, bagaimana kalau kita hari besok sayembarakan saja?" Ujar Abu Jahil dengan raut wajah serius.


Baginda Raja terdiam sejenak dan mengangguk-angguk.


"Hamba ingin beradu ketangkasan dengan Abu Nawas, dan nanti pemenangnya akan mendapatkan sepundi uang emas. Tapi, kalau kalah, hukumannya adalah dengan memandikan kuda-kuda istana selama 1 bulan." Tutur Abu Jahil meyakinkan Raja.


Akhirnya baginda menyetujui usulan Abu Jahil tersebut. Hitung-hitung sayembara itu akan memberikan hiburan kepadanya.


Esok harinya, dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap baginda, dan setelah itu Abu Nawas pun diberitahu jika ia akan mengikuti lomba berburu melawan Abu Jahil. Kemudian baginda menjelaskan semua aturan sayembara.


Awalnya, Abu Nawas menolak ikut, karena ia tahu bahwa semua ini hanya untuk mengerjainya apa lagi ini adalah ide dari Abu Jahil yang memang tidak menyukai kedekatannya dengan baginda raja. Karena terus dipaksa oleh baginda, akhirnya Abu Nawas setuju untuk ikut..


ketika hendak bersiap-siap, Abu Nawas mulai memikirkan jalan keluarnya nanti karena ia tahu yang ia hadapi adalah Abu Jahil, seorang pejabat istana yang membencinya. Abu Nawas berpikir pasti Abu Jahil akan menggunakan kekuasaannya untuk memerintahkan para anak buahnya untuk menyumbangkanseekor binatang buruan untuknya. Abu Nawas terus memutar otak dan akhirnya menemukan sebuah ide cemerlang, ia kemudian tersenyum


Abu Jahil sangat percaya diri dia berpikir mana mungkin Abu Nawas bisa mengalahkan dirinya kali ini.


Akhirnya, Baginda menggiring mereka ke tengah alun-alun istana. Raja dan seluruh rakyat menunggu, siapa yang bakal menjadi pemenang dalam lomba berburu ini.


Terompet tanda mulai ditiup. Abu Jahil segera memacu kudanya secepat kilat menuju hutan belantara.


Anehnya, Abu Nawas justru sebaliknya, dia dengan santainya menaiki kudanya sehingga para penonton banyak yang berteriak dan tertawa.


Menjelang sore hari, tampaklah kuda Abu Jahil memasuki pintu gerbang istana. Ia pun mendapat sambutan meriah dan tepuk tangan dari rakyat yang menyaksikannya.


Di sisi kanan dan kiri kuda Abu Jahil tampak puluhan hewan yang mati terpanah. Abu Jahil dengan senyum bangga memperlihatkan semua binatang buruannya di tengah lapangan.


"Aku, Abu Jahil berhak memenangkan lomba ini. Lihat..binatang buruanku banyak. Mana mungkin Abu Nawas mengalahkanku?" Teriaknya sombong yang membuat para penonton semakin ramai bertepuk tangan.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara tapak kuda Abu Nawas. Semua orang mentertawai dan meneriakinya karena tidak membawa satu pun binatang buruan.


Tapi, Abu Nawas terlihat santai saja. Ia malah tersenyum dan melambaikan tangan, sehingga membuat banyak penonton penasaran.


Baginda Raja memerintahkan dua orang pengawal maju ke tengah lapangan dan menghitung jumlah binatang buruan yang didapatkan dua peserta tersebut. Pada kesempatan pertama Abu Jahil. Pra pengawal menghitung jumlah binatang hasil buruan dari Abu Jahil.


"Tiga puluh lima ekor kelinci, ditambah lima ekor rusa dan dua ekor babi hutan." Kata salah satu pengawal.


"Kalau begitu akulah pemenangnya karena Abu Nawas tak membawa seekor binatangpun." Teriak Abu Jahil dengan sombong dan percaya diri.


"Tenang...tenang...aku membawa ribuan binatang. Jelaslah aku pemenangnya dan engkau wahai Abu Jahil, silahkan memandikan kuda-kuda istana. Menurut aturan lomba, semua binatang boleh ditangkap, yang penting jumlahnya." Kata Abu Nawas sambil membuka bambu kuning yang telah diisi dengan ribuan semut merah.


"Jumlahnya sangat banyak Baginda, mungkin ribuan, kami tak sanggup menghitungnya lagi !!" Kata pengawal kerajaan yang menghitung jumlah semut itu.


Melihat kenyataan itu, muka Abu Jahil langsung memerah karena sangat malu. Ia pun tiba-tiba saja jatuh pingsan.


Baginda Raja dan penonton tertawa terpingkal-pingkal. Abu Nawas langsung diberi hadiah.

Selasa, 15 Juli 2025

THORIQOH NAQSYABANDIYAH

9:47:00 PM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments

 


THORIQOH NAQSYABANDIYAH 

PENCETAK DZIKIR DALAM DIAM (BAGIAN 4) 

Thoriqoh Naqsyabandiyah adalah thoriqoh yang di nisbatkan kepada Al quthub Al Arif billah Al alim Al alaamah sayidi Syekh Muhammad bahauddin an naqsyabandi. Thoriqoh ini bermuara kepada sahabat besar Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra.


Thoriqoh ini juga dikenal dengan thoriqoh diam, karena ajaran dzikir di dalam hati nya yang menonjol. 


INTI AJARAN THORIQOH NAQSYABANDIYAH


Inti ajaran thoriqoh Naqsyabandiyah ada dalam 3 aspek besar yaitu ;


1. Mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara fokus pada dzikir qolbu/ dzikir diam tanpa suara, tetapi dengan kesadaran yang permanen akan keberadaan Allah SWT. 


2. Tawakal ( kepasrahan diri kepada Allah ) yang luar biasa, dan


3. Menjauhkan diri dari dunia (zuhud) 


DZIKIR TAREKAT NAQSYABANDIYAH


DZIKIR HARIAN


Dzikir harian dalam thoriqoh ini ada 2, yaitu ;


1. Dzikir yang setiap bakda sholat dibaca maktubah biasanya berisi permintaan ampun (istighfar), tasbih dan sholawat munjiyat. 


2. Latihan dzikir qolbi dengan cara memusatkan pikiran, diam dengan posisi lidah ditekuk keatas ditempelkan kalimat dilangit2 atas mulut kita sambil jantung dituntun untuk membaca ismu Dzat yaitu, kalimat ( Allah, Allah, Allah) sampai 100 X


DZIKIR TAMBAHAN


Dzikir tambahan dalam thoriqoh Naqsyabandiyah biasanya berbeda2 tergantung pada tingkat keseriusan dan kedudukan spiritual murid dihadapan Allah SWT, karena tujuan dzikir dalam thoriqoh ini adalah untuk membersihkan hati, meningkatkan kesadaran penghambaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 


Maka 7 lapisan ( lathifah) yang ada dalam diri murid yang meliputi ; 

1. Lathifah qolbi

2. Lathifah roh

3. Lathifsh sirri

4. Lathifah khofi

5. Lathifah akhfa

6. Lathifah nafsun bathin dan

7. Lathifah kuli jasad


Lathoif 2 tersebut harus dibuka dan diasah dengan memperbanyak 3 dzikir utama, yaitu ; dzikir Tauhid ( La ilaha illallah ), dzikir ismu Dzat ( Allah... Allah) dan ( Huwa... Huwa) dibaca 1000, 2000 atau sebanyak jumlah yang ditentukan oleh guru mursyidnya. 


DZIKIR BULANAN


Rutinan bulanan atau tawajuhan

 

Untuk rutinitas dalam thoriqoh ini bisa dilakukan dzikir bersama bulanan ataupun selapanan.


Biasanya bisa berbentuk dzikir bersama yang telah ditentukan sang guru mursyid, khataman, manaqib, Riyadhohan dan ziarah. 


Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk memelihara niat dan mengomohksn kedudukan rohani setiap murid. 


Mudah2an sekelumit dari gambaran thoriqoh Naqsyabandiyah / thoriqoh qolbi ini bisa membuka wawasan kita ttg berbagai macam jalan menuju Allah SWT. 

Aamiin



(AEA / 15/5/2025)

Senin, 14 Juli 2025

ABDOEL MOEIS

8:49:00 PM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments

  


Abdoel Moeis

Abdoel Moeis (bahasa Arab: عبد المعز 'Abd Al-Mu'iz) (lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan, politikus, dan Indonesia. Dia merupakan pengurus besar Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Volksraad yang mewakili organisasi tersebut. Abdul Muis dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada tanggal 30 Agustus 1959.

Abdul Muis adalah seorang Minangkabau, putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman. Ayahnya merupakan seorang demang yang keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam. Selesai dari ELS, Abdul Muis melanjutkan pendidikannya ke Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta.Namun karena sakit, ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sana.

Kehidupan

Abdul Muis memulai karirnya sebagai klerk di Departemen Onderwijs en Eredienst atas bantuan Mr. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pendidikan. Namun pengangkatannya tidak disukai oleh karyawan Belanda lainnya. Setelah dua setengah tahun bekerja di departemen itu, ia keluar dan menjadi wartawan di Bandung.Pada tahun 1905, ia diterima sebagai anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia. Kemudian ia sempat menjadi mantri lumbung, dan kembali menjadi wartawan pada surat kabar Belanda Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.

Pada tahun 1913 ia bergabung dengan Sarekat Islam, dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda. Setahun kemudian, melalui Komite Bumiputera yang didirikannya bersama Ki Hadjar Dewantara, Abdul Muis menentang rencana pemerintah Belanda mengadakan peringatan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Tahun 1917 ia dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam pergi ke negeri Belanda untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan itu, ia juga mendorong tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan Technische Hooge School – Institut Teknologi Bandung (ITB) di Priangan. Pada tahun 1918, Abdul Muis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Pusat Sarekat Islam.

Bulan Juni 1919, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli, Sulawesi Utara dibunuh setelah ia berpidato di sana. Abdul Muis berharap telah menghasut rakyat untuk menolak kerja rodi, sehingga terjadi pembunuhan tersebut. Atas kejadian itu dia dipersalahkan dan dipenjara.Selain berpidato ia juga berjuang melalui berbagai media cetak. Dalam tulisannya di harian berbahasa Belanda De Express, Abdul Muis mengecam seorang Belanda yang sangat menghina bumiputera.[rujukan?]

Pada tahun 1920, dia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian. Setahun kemudian ia memimpin pemogokan kaum buruh di Yogyakarta. Tahun 1923 ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Disana ia mengundang para penghulu adat untuk bermusyawarah, menentang pajak yang memberatkan masyarakat Minangkabau. Berkat aksinya tersebut ia dilarang berpolitik. Selain itu ia juga mengenakan passentelsel, yang agamanya tinggal di Sumatera Barat dan keluar dari Pulau Jawa. Kemudian ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Di kota ini ia menyelesaikan novelnya yang cukup terkenal : Salah Asuhan.

Tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Dan enam tahun kemudian diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942).

Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda.[3] Tahun 1959 ia wafat dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung

Karya

Salah Asuhan (novel 1928, difilmkan Asrul Sani 1972), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the

Twain oleh Lontar Foundation sebagai salah satu seri Perpustakaan Modern Indonesia

Pertemuan Jodoh (novel 1933)

Surapati (novel 1950)

Robert Anak Surapati (novel 1953)

Rabu, 11 Juni 2025

ZAINUL ARIFIN

8:19:00 AM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments
Zainul Arifin


Kiai Haji Zainul Arifin atau lengkapnya Kiai Haji Zainul Arifin Pohan (lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 2 September 1909 – meninggal di Jakarta, 2 Maret 1963 pada umur 53 tahun) adalah seorang politisi Nahdlatul Ulama (NU) terkemuka yang sejak remaja di zaman penjajahan Belanda sudah aktif dalam organisasi kepemudaan NU, GP Ansor, jabatan terakhirnya ialah ketua DPRGR sejak 1960 - 1963.

Masa Kanak-Kanak dan Pendidikan

Zainul Arifin lahir sebagai anak tunggal dari keturunan raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan perempuan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing, Siti Baiyah boru Nasution. Ketika Zainul masih balita kedua orangtuanya bercerai dan ia dibawa pindah oleh ibunya ke Kotanopan, kemudian ke Kerinci, Jambi. Di sana ia menyelesaikan HIS (Hollands Indische School) dan sekolah menengah calon guru, Normal School. Selain itu, Arifin juga memperdalam pengetahuan agama di Madrasah di surau dan saat menjalani pelatihan seni bela diri Pencak Silat. Arifin juga seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal melayu, Stambul Bangsawan sebagai penyanyi dan pemain biola. Stambul Bangsawan merupakan awal perkembangan seni panggung sandiwara modern Indonesia. Dalam usia 16 tahun Zainul merantau ke Batavia (Jakarta).