Kendal - Jawa Tengah

Senin, 01 Juni 2026

HYPNOTEACHING POST 2

7:22:00 PM Posted by M. Juharuddin Mutohar No comments


HYPNOTEACHING (POST 2) 

Oleh: M. Juharuddin 

Spotlight/005/1/IX/2025 

Edisi September 2025 

Alam bawah sadar cenderung aktif terus menerus, bahkan saat tidur sekalipun. Bahkan alam bawah sadar tidak bisa membedakan benar dan salah, tugasnya hanya menyerap informasi saja. Maka, doktrin tentang paham-paham dan ajaran kehidupan dalam kondisi emosional tertentu (pada gelombang Theta) sangat mudah masuk ke alam bawah sadar dan menjadi pola hidup. Alam bawah sadar bekerja otomatis melalui pengulangan-pengulangan kalimat atau sesuatu (kejadian/emosi) yang disaksikan sehari-hari. Seperti contoh: kebiasaan menyikat gigi otomatis, tidur dan bangun pada jam tertentu, ibadah tepat waktu dan lain sebagainya. Termasuk orang yang mengalami trauma, phobia, atau bahkan ketakutan yang tidak jelas asalnya, itu semua adalah respon tubuh atas informasi atau kebiasaan yang sudah tersimpan di alam bawah sadar. Contoh lain seperti: keyakinan diri, mimpi, dan intuisi semua adalah atas pengaruh dan proyeksi alam bawah sadar.

Ketiga: Alam Tidak Sadar (Unconscious Mind) 

Disebut juga gelombang otak Delta dengan aktifitas listrik 3,9 - 0,1 Hz. Pikiran atau alam tidak sadar dalam konteks psikologi (teori kepribadian Sigmund Freud) merupakan bagian pikiran yang berisi dorongan, keinginan, dan ingatan yang ditekan dan tidak dapat diakses oleh pikiran sadar karena alasan tertentu. Seperti pengalaman atau sifat yang tidak menyenangkan, atau bahkan kejadian yang menimbulkan traumatis. Seseorang berada pada gelombang Delta adalah pada saat tidur nyenyak sangat dalam tanpa mimpi. Meski informasi di dalam pikiran tidak sadar tidak bisa diakses oleh pikiran sadar namun memiliki peran untuk pemulihan fisik dan mental, meregenerasi sel dalam tubuh, dan penyembuhan terhadap penyakit.

Keempat: Alam Kesadaran Puncak (Gelombang Otak Gamma)

Alam Kesadaran Puncak atau biasa disebut dengan Gelombang Otak Gamma dengan aktifitas listrik 100-30 Hz. Pada kondisi ini seseorang mengalami tingkatan fokus yang sangat tinggi, mencapai kesadaran puncak, dan intuisi yang sangat tajam. Gelombang gamma adalah “aha moment” dimana seseorang sedang mengalami aktivitas spiritual yang dalam. Para ahli masih terus meneliti terkait gelombang gamma ini, namun diyakini bahwa gelombang gamma terkait dengan kecerdasan dan kesadaran yang tinggi.

Dalam dunia hipnosis yang paling sering dibahas adalah alam sadar dan alam bawah sadar, karena meskipun memiliki gelombang listrik yang berbeda keduanya tentu saling terkait (saling memengaruhi). Hubungan antara keduanya ibarat pengemudi “alam sadar” dan mesinnya “alam bawah sadar”. Dari penjelasan di atas total ada lima gelombang pikiran: Beta, Alpha, Theta, Delta, dan Gamma. Otak manusia bisa berpindah antar gelombang sesuai aktifitas, namun untuk keperluan hypnosis dalam hal ini adalah hypnoteaching paling banyak dimanfaatkan nantinya adalah Alpha dan Theta (alam bawah sadar) karena alam bawah sadar adalah pusat emosi, memori, dan kebiasaan otomatis. Sedangkan alam sadar adalah logika dan kendali saat ini. Pada praktik hypnoteaching ini akses dan pengelolaan alam bawah sadar akan melalui afirmasi positif, relaksasi (meditasi sederhana), dan sugesti-sugesti hipnosis yang diperlukan.

Selanjutnya kita bahas tentang tahapan pelaksanaan hypnoteaching. Prinsipnya sama dengan urutan melakukan hipnosis, yaitu: Pre Induction, Induction, Deepening, Depth Level Test, Teaching Suggestion, Teaching Termination, Post Teaching Hypnotic, Normal. Kami akan ulas satu persatu tahapan pelaksanaan hypnoteaching diatas.

Tahapan melakukan hypnoteaching sebagaimana disebutkan di atas, terdiri dari beberapa fase utama, dilakukan secara sistematis peserta didik merasa aman, nyaman, dan proses mengajar juga efektif. Berikut penjelasan tahapan hypnoteaching: 

1. Pre-Induction (Pre-Talk/Pra-Pembicaraan)

Sebagaimana telah disinggung di awal pembahasan pada artikel ini. Ketika seorang guru/pendidik hendak menerapkan hypnoteaching dalam teknik pengajarannya, maka dari situ pula dia harus sudah memulai tahapan awal hypnoteaching yaitu Pre-Induction (Pre-Talk). Ini adalah tahapan sebelum seseorang memulai praktek mengajar dengan hypnoteaching. 

Kita bahas dulu Pre-Induction dalam konteks keseharian di sekolah, semua hal yang diterapkan seorang guru harus mencerminkan perilaku positif mulai dari tutur katanya, sikapnya, penampilannya, pembawaannya, dan karakter lain yang menjadi konsumsi publik harus benar-benar diperhatikan. Secara tidak langsung dengan dimikian seorang guru telah menjelaskan kepada semua warga sekolah, tentu terutama adalah peserta didik bahwa guru tersebut adalah refleksi guru ideal. Kepercayaan peserta didik akan tumbuh kepada sosok guru tersebut dengan melihat karakter dan pembawaannya. 

Pada saat mengajar di kelas Pra-Induksi bertujuan untuk menjelaskan kepada peserta didik apa itu hypnoteaching, meluruskan anggapan atau mitos tentang hipnosis, seperti; “hipnosis bukan tidur atau kehilangan kontrol penuh”. Seorang guru berusaha menumbuhkan rasa percaya peserta didiknya. Pada tahap Pra-Induksi jugalah dilakukan anamnesis (yaitu penggalian informasi di kelas itu, apa problem di kelas itu, apa saja kendala belajar yang dihadapi baik secara umum maupun individu, lalu jelaskan juga riwayat dan tujuan penerapan hypnoteaching). Guru bisa bertanya secara langsung atau menyebar angket sederhana, karena data ini nanti yang akan digunakan untuk membangun sugesti pada pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Pada tahap Pra-Induksi ini seorang guru dapat melakukan banyak variasi, inovasi, dan berbagai trik untuk menumbuhkan kepercayaan dan kenyamanan peserta didik. Sambil memelajari bagaimana kondisi kelas itu, apa kendala belajarnya, metode seperti apa yang paling tepat dilakukan dan sugesti seperti apa nantinya yang akan diberikan.

Pada tahap Pra-Induksi gunakanlah kata-kata yang tepat karena di sinilah penentu awal keberhasilah hypnoteaching. Jika gagal memeroleh simpatik, kepercayaan, dan kenyamanan peserta didik. Maka, bisa dipastikan tahap berikutnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Begitupun sebaliknya, jika Pra-Induksi ini berhasil pastilah tahap berikutnya akan dengan mudah dilakukan dan peserta didik bisa mengikuti dengan sangat baik. Rubahlah pandangan peserta didik dengan kalimat yang membuat mereka nyaman dan mengena di hati.

Pada tahap ini, pastikan guru menggunakan komunikasi yang efektif dan singkron antara guru dan peserta didik, gunakan kata yang sederhana dan mudah dimengerti peserta didik, agar peserta didik mampu “beresonansi” (potensi otak mendengar pesan yang dimaksud).

Guru juga bisa memberi game-game sederhana, untuk meningkatkan antusias peserta didik, juga memastikan pikiran peserta didik terfokus kepada guru.

Lama dan tidaknya tahap Pra-Induksi bukan menjadi ukuran. Tergantung seberapa piawai guru memengaruhi dan menyita perhatian peserta didiknya. Salah satu tanda siswa terfokus pada guru yaitu seisi ruangan terdiam mendengarkan, dan minim gerakan.

Setelah peserta didik masuk ke dalam pengaruh guru, bisa menerima penjelasan dan siap untuk ke tahap berikunya. Guru bisa memberikan relaksasi sederhana, sepeti relaksasi “Comfortable Place” yaitu menuntun peserta didik untuk bervisualisasi seolah dia sedang berada di tempat yang nyaman, hatinya tenang, dan kejernihan pikirannya terbuka. 

Contoh skrip: “Duduk dengan relaks, pejamkan mata. Perhatikan dan bayangkan apa yang saya ucapkan, saat ini kamu berada ditempat yang sangat nyaman, tempat dimana kamu bisa merasa tenang. Udaranya sejuk, langitnya biru cerah, pemandangan di sekeliling dipenuhi hijau daun dan rerumputan.

Duduklah di tempat itu, hiruplah nafas dengan dalam, rasakan kesegarannya memenuhi dada dan menyebar ke seluruh tubuh. Di tempat itu pikiranmu benar-benar terbuka, semua beban dan kendala hilang seketika. Tetap dalam kondisi nyaman seperti ini selama 5 menit kedepan”.

Setelah dirasa cukup, guru bisa memerintahkan peserta didik untuk kembali membuka mata dan bernafas dengan lega.

Atau bisa juga dengan teknik “Touching sincerity” yaitu menyentuh sisi keikhlasan setiap individu peserta didik untuk benar-benar dengan hati tulus ikhlas mengikuti semua proses kegiatan belajar mengajar dengan metode hypnoteaching ini. Caranya: mintalah peserta didik untuk duduk tegak dan santai di kursi, pejamkan mata dan sentuh dada kiri dengan menggunakan telapak tangan kanan, seraya guru menuntunnya dengan kalimat skrip. Contoh: “rasakan suasana hatimu dan temukan rasa ikhlas di dalamnya, rasakan bahwa hatimu benar-benar terasa ikhlas tenang dan nyaman. Selami lebih dalam lagi dan rasakan keikhlasan itu sangat dalam, menyebar ke seluruh anggota tubuhmu”. Jika dirasa cukup bisa menyuruh peserta didik untuk selesai namun dengan tetap mengikuti semua rangkaian kegiatan belajar mengajar dengan senang hati dan ikhlas.

Jika informasi di tahap Pra-Induksi dirasa cukup, dan peserta didik sudah siap menerima tahap berikutnya barulah guru melangkah ke tahapan berikutnya yatiu “Induksi”. 

2. Induction

Tahap ini adalah proses membawa peserta didik masuk ke kondisi trance, yaitu dimana gelombang otak lebih rileks. Pengajar (guru/dosen) bisa memilih teknik yang akan digunakan, karena pada tahap ini tekniknya beragam. Akan kami berikan beberapa contoh dalam pelaksanaan induction. 

Induksi Peogresif

Yaitu relaksasi seluruh tubuh, dari kepala hingga kaki. 

Pastikan seluruh peserta didik telah siap menerima skrip dari guru. Jika guru belum terbiasa baiknya skrip ditulis atau dirancang terlebih dahulu, namun jika sudah terbiasa cukup membuat tancangan kasar/step by stepnya saja. Pada saat pemberian sugesti bisa berjalan otomatis dengan tetap mempertimbangkan kualitas bahasa yang disampaikan. 

Contoh skrip: 

“Duduklah dengan normal dan nyaman, sandarkan tubuh pada kursi. Rasakan seluruh tubuhmu rileks dari kepala hingga kaki. Otot-ototnya santai, dan semua sistem di dalam tubuhmu bekerja dengan sangat baik. Bernafaslah dengan normal dan sangat ringan. Buatlah suasana hati terasa damai, dan pikiran sangat tenang. Semakin kamu merakan kenyamanan. Maka, semakin kamu masuk ke alam bawah sadar. Masuki alam bawah sadarmu seiring rasa damai dan tentram yang kamu rasakan. Semakin dalam dan semakin dalam. Bagus sekali, tetap berada di alam bawah sadar, dan terus fokus pada apa yang saya sampaikan”. 

Cara lain adalah Focus on view

(Fokus pandangan)

Yaitu dengan memerintahkan peserta didik untuk fokus pada satu titik pandang. Contoh: siswa diperintahkan untuk menaruh jari telunjuknya sekitar 30 cm didepan mata, tepat di tengah-tengah antara kedua mata. Suruh peserta didik fokus pada ujung jari telunjuk, dan perintahkan semakin perlahan jari telunjuk maju mendekati mata tepat di tengah antara kedua mata. Semakin dekat dan tetap fokus memandang ujung jari telunjuk.  

Contoh skrip: 

“Taruh telunjuk jarimu tepat di depan matamu, taruh kurang lebih jarak 30 CM. Pandangi ujung telunjuk jarimu, pandang dengan fokus, semakin kamu fokus memandang kedua matamu terasa capek sekali dan ingin segera memejamkan mata. Perlahan-lahan dekatkan jarimu ke arah mata, sambil terus fokus memandang ujung telunjuk jari. Dekatkan terus dan semakin dekat, semakin matamu lelah dan pejamkan mata. Bagus sekali, sekarang rasakan tubuhmu sangat pasrah dan nyaman, lalu masuki alam bawah sadarmu. Saat ini kamu berada pada alam bawah sadarmu, dimana kamu lebih siap menerima semua intruksi yang saya berikan”. 

Contoh teknik Induksi yang ketiga adalah dengan cara Hitungan Mundur. 

Pastikan peserta didik sudah duduk dengan nyaman, semuanya rapi, terkondisi dan siap dengan intruksi selanjutnya. Berikan penjelasan bahwa Anda (guru) akan menghitung mundur dari angka 7 ke angka 1.

Instruksikan dalam setiap hitungan peserta didik memasuki alam bawah sadarnya dengan lebih dalam dan lebih dalam.

Contoh skrip: 

“Duduk dengan nyaman dan tenang, pejamkan mata, dengarkan dan ikuti setiap intruksi yang saya berikan. Saya akan menghitung mundur dari angka 7 sampai dengan angka 1. Dalam setiap hitungan masuki alam bawah sadarmu dengan lebih dalam. Tujuh, rasakan seluruh tubuhmu terasa sangat nyaman. Enam, masuki alam bawah sadarmu, rasakan kondisi tubuhmu lebih tenang dan nyaman. Lima, lebih dalam lagi memasuki alam bawah sadarmu. Empat, semakin dalam kamu memasuki alam bawah sadarmu, semakin tenang dan sangat nyaman kamu rasakan. Tiga, saat ini kamu benar-benar berada di alam bawah sadar, dan tetap fokus dengan apa yang saya ucapkan. Dua, apa yang saya ucapkan semuanya terekam dengan sangat baik oleh alam bawah sadarmu. Satu, bagus sekali, tetap berada di kedalaman alam bawah sadar, dan terus ikuti apa yang saya sampaikan”.

3. Deepening (Pendalaman)

Setelah peserta didik memasuki kondisi trance (alam bawah sadar) tidak langsung diberikan perintah untuk kembali bangun dan menerima materi pembelajaran. Tapi guru melakukan pendalaman kembali agar perserta didik benar-benar masuk ke alam bawah sadar secara sempurna. 

Pendalaman sebenarnya hampir sama dengan induction. Seperti melalukan pengulangan terhadap visualisasi atau hitungan mundur yang dilakukan di induction tadi. Namun, saran kami (penulis) jika di proses induction guru menggunakan visualisasi maka di deepening lakukanlah dengan hitungan mundur, biar ada pembeda perintah dan keterukuran seberapa patuh peserta didik mengikuti petintah dari guru dengan beberapa teknik perintah memasuki kondisi trance yang berbeda.

0 komentar:

Posting Komentar